WONOASIH - Pemerintah Kecamatan Wonoasih terus mendorong lahirnya inovasi pelayanan publik yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Salah satu inovasi yang kini dikembangkan di Kelurahan Jrebeng Kidul adalah PERLIMA (Perpustakaan Keliling Kharisma), sebuah layanan perpustakaan keliling yang diintegrasikan dengan kegiatan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) sebagai upaya menumbuhkan budaya literasi sejak usia dini.
Inovasi ini menjadi bentuk pengembangan pelayanan publik non-digital di tingkat kelurahan yang mengoptimalkan kegiatan Posyandu sebagai ruang belajar masyarakat. Konsep tersebut sejalan dengan pedoman penyusunan proposal inovasi daerah yang menekankan bahwa inovasi harus lahir dari permasalahan pelayanan, menghadirkan pembaruan, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Camat Wonoasih Kota Probolinggo, Eko Candra Wirawan, mengatakan bahwa PERLIMA merupakan langkah nyata pemerintah dalam mendekatkan akses literasi kepada masyarakat tanpa harus menunggu masyarakat datang ke perpustakaan.
"PERLIMA lahir dari semangat menghadirkan pelayanan yang lebih dekat dengan masyarakat. Kami melihat bahwa setiap bulan Posyandu selalu menjadi tempat berkumpulnya ibu dan anak. Momentum tersebut kami manfaatkan tidak hanya untuk pelayanan kesehatan, tetapi juga sebagai ruang belajar yang menyenangkan melalui perpustakaan keliling. Dengan demikian, masyarakat memperoleh dua manfaat sekaligus, yakni pelayanan kesehatan dan peningkatan literasi," ujar Eko.
Menurutnya, inovasi ini berangkat dari kondisi masih terbatasnya akses masyarakat terhadap bahan bacaan serta belum optimalnya pemanfaatan waktu tunggu selama pelaksanaan Posyandu. Melalui PERLIMA, waktu tunggu tersebut diubah menjadi aktivitas edukatif dengan menyediakan berbagai koleksi buku bacaan anak, pengetahuan umum, kesehatan keluarga, hingga kegiatan membaca bersama dan mendongeng.
"Kami ingin mengubah kebiasaan menunggu menjadi kebiasaan membaca. Anak-anak dapat mengenal buku sejak dini, sementara orang tua memperoleh informasi yang bermanfaat mengenai pengasuhan, kesehatan, maupun pengetahuan lainnya. Inilah bentuk pelayanan publik yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat," katanya.
Eko menjelaskan, pelaksanaan PERLIMA dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari perencanaan, penyiapan koleksi buku dan media edukasi, pengantaran perpustakaan keliling ke lokasi Posyandu, pelaksanaan layanan membaca dan peminjaman buku, hingga evaluasi dan tindak lanjut secara berkala. Mekanisme tersebut disusun agar layanan dapat berjalan secara berkelanjutan dan terus berkembang sesuai kebutuhan masyarakat. Pedoman penyusunan proposal inovasi daerah juga mengarahkan agar setiap inovasi memiliki tahapan pelaksanaan yang jelas, mulai dari identifikasi masalah hingga pemanfaatan produk inovasi.
Lebih lanjut, ia menilai keunggulan PERLIMA terletak pada kemampuannya mengintegrasikan dua layanan publik dalam satu kegiatan. Selain meningkatkan kualitas pelayanan Posyandu, inovasi ini juga memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan tanpa memerlukan pembangunan fasilitas baru.
"Kami memanfaatkan sumber daya yang sudah ada. Posyandu tetap berjalan sebagaimana mestinya, tetapi kini memiliki nilai tambah sebagai pusat literasi keluarga. Pendekatan seperti ini lebih efisien, mudah diterapkan, dan dapat direplikasi oleh kelurahan lain," ungkapnya.
Menurut Eko, keberhasilan inovasi tidak hanya diukur dari jumlah kegiatan yang dilaksanakan, tetapi juga dari perubahan perilaku masyarakat. Oleh karena itu, evaluasi rutin dilakukan dengan melihat tingkat partisipasi masyarakat, pemanfaatan koleksi buku, serta masukan dari kader Posyandu dan warga sebagai dasar penyempurnaan program.
Ia berharap PERLIMA dapat menjadi budaya baru di tengah masyarakat Jrebeng Kidul, di mana membaca menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari dan tumbuh sejak usia dini melalui keterlibatan keluarga.
"Harapan kami sederhana, setiap anak yang datang ke Posyandu tidak hanya pulang dengan pelayanan kesehatan yang baik, tetapi juga membawa pengalaman belajar yang menyenangkan. Ketika budaya membaca tumbuh dari keluarga, maka kita sedang membangun fondasi sumber daya manusia yang lebih berkualitas untuk masa depan Kota Probolinggo," pungkasnya.
Melalui pendekatan kolaboratif antara pemerintah kelurahan, kader Posyandu, PKK, serta masyarakat, PERLIMA diharapkan menjadi salah satu praktik baik inovasi daerah yang mampu meningkatkan kualitas pelayanan publik sekaligus memperkuat budaya literasi di lingkungan masyarakat.